Call Me Fikar a.k.a Fickffy

Call Me Fikar a.k.a Fickffy

Saturday, 9 September 2017

Fakta-Fakta Eiichiro Oda Tahun 2017


(Eiichiro Oda, pencipta One Piece. Sumber: alabn.com)



Assalamu Alaikum wr. wb.
Hai Oploverz

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang fakta-fakta dari sang pencipta dari One Piece, Eiichiro Oda.

Eiichiro Oda adalah seorang mangaka dari Jepang yang menciptakan One Piece dari tahun 1997 hingga sekarang. Eiichiro Oda lahir 42 tahun yang lalu atau lebih tepatnya pada tanggal 1 Januari 1975 di Kumamoto, Prefektur Kumamoto, Jepang. Hingga saat ini, Oda-san, sapaan akrab dari pecinta One Piece, sudah membuat 85 jilid komik One Piece dan anime nya sudah mencapai episode 804 yang menjadikannya sebagai salah satu mangaka terbaik di dunia dan salah satunya meraih Guinness World Record dalam kategori "jumlah buku terbanyak yang diterbitkan oleh satu pengarang" pada Desember 2014 kemarin dengan jumlah cetakan sebanyak 320,866,000 kopi di seluruh dunia.


(Luffy memegang plakat Guinness World Record karya Eiichiro Oda. Sumber: jurnalotaku.com) 



Selain itu, ada beberapa fakta terbaru yang telah saya peroleh dari salah satu majalah One Piece, yaitu One Piece Magazine jilid 3, yang telah rilis 1 September kemarin di Jepang, salah satu isinya mengenai fakta seorang Oda-san.


(Sampul One Piece Magazine jilid 3. Sumber: Official Account LINE "Official KOPI")


Berikut adalah beberapa fakta yang telah di muat dalam One Piece Magazine Jilid 3:


1. Menurut Editor Kushima, Oda berencana menggambar manga yang menceritakan bajak laut, penyihir atau ninja sejak dia masih kecil.

2. Oda awalnya merencanakan Doflamingo dan Corazon tidak memiliki hubungan darah. Corazon hanyalah salah satu bawahannya. Doflamingo tidak mempunyai saudara laki-laki ataupun perempuan. Nama kode Vergo adalah Sir Dean.

3. Nama Donquixote Homing awalnya adalah Donquixote Dressking. Dressking dan Cobra berteman baik.

4. Doflamingo berpikir, "Aku akan menjadi raja dunia!" ketika dia kabur dari Mariejoa. 
Kemudian dia membentuk sindikat kejahatan di "Downs", North Blue.

5. Setelah Roger dieksekusi, Doflamingo memutuskan, "Aku akan menjadi Raja Bajak Laut!"

6. Tingkat asam urat Oda tinggi karena kurang berolahraga.

7. Oda terkadang melewatkan makan selama beberapa hari untuk fokus pada pekerjaannya.

8. Ketika seorang asisten bertanya kepada Oda apa makanan paling lezat dalam hidupnya, dia menjawab bahwa makanan kesukaannya adalah potongan kecil daging babi murah yang dijual di supermarket dengan nasi dan kecap.

9. Oda sangat berterima kasih kepada Hisashi Sasaki, Vice-President Global Shonen Jump, karena dia berusaha keras untuk mewujudkan serialisasi One Piece meskipun banyak editor menentangnya.

10. Oda marah ketika editornya mengatakan kepadanya bahwa tidak ada karakter wanita buatannya yang imut sebelum kemunculan awal (debut) nya.

11. Teman Oda (yang sesama) mangaka memberitahunya bahwa ada seorang editor yang buruk, bernama Sugita. Ketika Sugita bertemu Oda untuk pertama kalinya sebagai editornya, Oda langsung berkata kepadanya, "Ganti dengan editor lain!". Sugita kaget mendengarnya. (Pada akhirnya) Oda mengatakan Sugita kemudian menjadi editor yang baik.

12. Oda mengeluh bahwa editor saat ini (Naito) adalah editor yang paling rendah hati dalam hidupnya. Bahkan saat Naito memuji bahwa bab ini menarik, Oda tidak bisa mempercayai kata-katanya. Oda mengatakan bahwa editor Sugita adalah editor terbaik dalam hal ini. Sikap rendah hati Naito membaik dalam 2 minggu setelah nasihat Oda.

13. Ketika Oda dan editor Hattori bertemu untuk pertama kali, Oda bertanya apakah dia sudah menikah atau punya pacar. Hattori menjawab bahwa istrinya sedang hamil. Oda mengatakan kepadanya bahwa dia tidak bisa memberi banyak pekerjaan kepada Hattori. Hattori terkejut karena menurutnya Oda adalah mangaka yang sangat ketat terhadap editornya.

14. Oda memulai pembicaraannya dengan editor di telepon, "Apa kejadian menarik menurut Anda yang terjadi minggu ini?" Karena Oda perlu santai setelah berkonsentrasi pada manga.

15. Arc Amazon Lily menjadi lebih seksi dari yang direncanakan Oda sejak dia senang bahwa editor Hattori bersemangat setiap kali dia menggambar karakter seksi. 
Hattori dengan bercanda mengeluh, "Kata-katamu terdengar seperti aku hanyalah seorang editor yang bernafsu tinggi!".

16. Oda tidak dapat menahan rasa kesedihannya saat menggambar adegan pemakaman Going Merry Go.



Sekian mengenai profil singkat Eiichiro Oda dan fakta-fakta terbarunya yang saya tulis, silahkan berikan tanggapan serta masukan di dalam komentar jika terjadi kesalahan informasi.

Terima Kasih.

Wassalamu Alaikum wr. wb.

Thursday, 7 September 2017

Indonesia Benamkan Filipina di AFF U-18 2017

(Sumber: Tribun Manado)



Indonesia berhasil meraih 3 angka setelah membantai Filipina dengan skor 0-9 di stadion Thuwunna, Yangon, Myanmar, Kamis (7/9) malam. Sejak menit-menit awal babak pertama, Indonesia mendominasi pertandingan, Indonesia membuka pesta gol pada menit ke-9 lewat tendangan luar kotak pinalti Feby Eka Putra yang tidak mampun dibendung kiper Filipina, Quinny Kammeraad, skor 0-1 untuk Indonesia. Indonesia kembali menambah keunggulan lewat sontekan Egy Maulana Vikri di menit ke-22, skor 0-2. Lima menit kemudian, tepatnya di menit ke-27 Muhammad Iqbal mencatat namanya di papan skor lewat sontekannya di sisi kiri pertahanan Filipina yang menyambut umpan Feby Eka Putra, skor 0-3. Indonesia hampir saja menambah gol di menit ke-30 lewat tendangan pinalti, namun sang algojo, Asnawi Mangku Alam, mampun di tepis Kammeraad. Indonesia kembali mendapatkan hadiah pinalti di menit ke-36, giliran Egy MaulanaVikri sebagai alogo sukses menambah keunggulan bagi Indonesia sekaligus mengoleksi golnya menjadi 2 gol pada pertandingan ini, skor 0-4. Skuad Garuda Muda kembali menambah keunggulan lewat sontekan Muhammad Iqbal di menit ke-40, skor 0-5 untuk Indonesia hingga babak pertama usai.


Memasuki babak kedua, Indonesia semakin gencar menyerang pertahanan Filipina dengan tempo pelan lewat skema one-two-touch, pada menit ke-67 Indonesia kembali memperbesar keunggulan lewat tendangan Feby Eka Putra sekaligus mencetak gol keduanya, skor 0-6 bagi Indonesia. Garuda Muda semakin menguasai pertandingan, di akhir-akhir pertandingan Indonesia menambah lagi 3 gol, pada menit ke-87 lewat eksekusi titik putih Feby Eka Putra yang sekaligus mencetak hattrick pada pertandingan ini, skor 0-7. Pada menit ke-90, petaka bagi kiper Filipina, Quinny Kammeraad, yang harus diusir wasit karena menjegal Muhammad Rafli di kotak pinalti, Muhammad Rafli yang menjadi algojo berikutnya sukses menambah keunggulan Indonesia, skor 0-8. Di masa injury-time, tepatnya menit ke-91, Muhammad Rafli mencetak gol keduanya sekaligus menutup keunggulan bagi Indonesia menjadi 0-9. Dengan hasil ini Indonesia meraih poin penuh di dua pertandingan setelah sebelumnya mengalahkan tuan rumah Myanmar dengan skor tipis 1-2, sementara pesaing terdekat, Vietnam, juga meraih poin yang sama dengan membantai Brunei dengan skor 1-8, namun Indonesia unggul efektivitasi gol sehingga Indonesia memuncaki klasemen grup B. Pertandingan selanjutnya Indonesia akan berhadapan dengan Vietnam, Senin (11/9) sore.

Tuesday, 5 September 2017

Kuasa, Kampus, dan Pendidikan "Alternatif"


(Sumber: tribuntimur.com)

Pertama, tulisan  ini hadir karena keresahan penulis melihat realitas pendidikan saat ini khususnya di dunia kampus. Hegemoni kelas birokrat terhadap kelas mahasiswa yang semakin menjadi-jadi melalui berbagai aturan normlisasi dan regulasi. Wacana-wacana terkait perkuliahan dibuat se-rapi mungkin oleh pihak penguasa untuk disuntikkan kedalam kepala-kepala mahasiswanya.
Tulisan ini hadir untuk menjadi bahan releksi bagi segenap “mahasiswa” di setiap perguruan tinggi , apakah hari ini setiap tindakan yang kita lakukan , adalah murni kehendak diri sendiri? Ataukah sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang menggerakkan kita ?
Tulisan ini terbagi ke dalam empat  bagian, bagian pertama menjelaskan tentang eksistensi kuasa dalam menciptakan suatu keteraturan melalui normalisasi dan regulasi. Bagian kedua menggambarkan kondisi kampus yang terjebak dalam kuasa melanggengkan kapitalisme, bagian ketiga menjelaskan realitas lembaga kemahasiswaan hari ini yang justru ikut terlibat dalam lingkaran kuasa “senior vs junior”. Bagian terakhir dari tulisan ini menawarkan konsep pendidikan alternatif yang memanusiakan manusia.
KUASA
Manusia adalah makhluk merdeka , yang memiliki otoritas penuh atas dirinya sendiri. Setiap individu memiliki naluri kekuasaan atau hasrat untuk menguasai individu lainnya , sehingga setiap dari kita ternyata berpotensi menjadi penguasa dan pihak yang dikuasai. Kuasa dalam konteks ini tdak berbicara tentang kekuasaan struktural seperti “atasan dan bawahan” atau “pemilik dan pekerja”, namun kuasa yang di maksud adalah segala sesuatu yang terkait normalisasi dan regulasi yang katanya untuk menciptakan keteraturan di masyarakat dan kuasa yang mampu mempengaruhi kemerdekaan setiap individu atas dirinya sendiri.
Setiap pembahasan terkait persoalan kuasa akan selalu berbanding lurus dengan konsep pengetahuan individu yang bersangkutan. Pengetahuan yang senantiasa mengantarkan kita bagaimana melihat wacana yang mereproduksi di lingkungan masyarakat. Pengetahuan menjadi landasan bergerak setiap individu. Oleh karena itu , kekuasaan tidak terlepas dari upaya konstruk kebenaran dan menjadi dasar keabsahan sebuah pengetahuan. ( baca: Michael Foucault)
Sebuah wacana yang berisi penanda dan petanda tidak mampu berdiri dari sebuah kebenaran objektif, melainkan wacana tersebut terlibat dalam diskursus-diskursus atau mekanisme-mekanisme kuasa yang penyebarannya  melalui media-media “penyampai informasi” ke masyarakat. Tidak dapat dipungkiri hari ini kita hidup dibawah kuasa pemilik modal melalui sistem yang disebut neoliberalisasi. Seluruh sendi-sendi kehidupan telah terjarah oleh sistem itu, dengan menuhankan kapital.(baca:Kapitalisme)
Hari ini pewacanaan di dunia pendidikan pun tak luput dari determinasi kuasa, termasuk di lingkungan kampus. Kurikulum pendidikan yang dibuat entah untuk kepentingan siapa yang mengarahkan pengetahuan yang diperoleh sesuai dengan harapan “penguasa” kita. Aturan-aturan kebijakan yang dibua katanya untuk menciptakan “keteraturan” di kalangan para akademika yang justru menjadi pertahanan para birokrat untuk melanggengkan kekuasaannya. Dan naluri kekuasaan yang menjelma menjadi sebuah obsesi besar pun diperankan oleh para “mahasiswa”, mereka yang meneriakkan dengan lantang penolakan teradap segala bentuk penindasan pun tanpa disadari menindas “temannya sendiri”. Mereka yang mengkhutbahkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa pun ternyata mereka yang membungkan kesadaran kritis itu. (baca :Mahasiswa).
KAMPUS
Semakin hari kita semakin dibuat tercengang dengan konsep kurikulum yang disodorkan oleh pihak birokrat. Kurikulum materi kuliah yang dibuat katanya untuk meningkatkan potensi diri justru malah menciptakan pengekangan di-diri mahasiswanya. Pendidikan tidak lagi untuk memerdekakan justru sebaliknya mahasiswa terpenjara dalam sistem yang dibuat untuk normalisasi dalam melanggengkan sebuah kekuasaan, mahasiswa kritis dibungkam oleh sistem, mahasiswa yang dianggap mengancam kekuasaan “dipasung” dengan ancaman DO atau skorsing. Setiap ceramah dosen berisi iming-iming lapangan pekerjaan , menjadi seorang manajer , direktur, akuntan ,dokter, dan berbagai macam profesi lainnya. Realitas pendidikan hari ini hanya sampai mengantarkan kita kepada gebang institusi baik itu swasta maupun negara.
Kurikulum pendidikan meniscayakan pengetahuan yang diperoleh oleh mahasiswa di ruang perkuliahan. Namun Kurikulum pendidikan pun tak luput dari determinasi kekuasaan , sehingga pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang perkuliahan terselip kepentingan-kepentingan kuasa, untuk melanggengkan sistem kekuasaan yang sedang berjaya saat ini. Karena pengetahuan merupakan landasan setiap orang dalam bergerak , maka realitas gerakan  mahasiswa saat ini pun mengarah pada pelanggengan sistem kuasa tersebut, misal kuasa kapitalisme. Tidak hanya itu , bentuk hegemoni kekuasaan di dunia pendidikan pun terlihat dari media-media yang menyangkan atau memeberikan informasi terkait mahasiswa terbaik, lulusan terbaik yang menjadi “pekerja” , ukuran kesuksesan seseorang diukur dari materi ketika ia menjadi seorang dokter , direktur , dan PNS. Media pun tak luput menayangkan bagaimana mahasiswa “buruk” adalah yang selalu membuat kekacauan dengan berdemo misalnya. Sehingga wacana yang disuguhkan media-media ke masyarakat  itu tak luput dari mekanisme-mekanisme kuasa dalam melanggengkan kekuasaannya.
Tidak berhenti sampai disitu kekuasaan lain di dunia pendidikan pun ada yang disebut kekuasaan disipliner.kekuasaan disipliner artinya Segala bentuk kebijakan , aturan-aturan oleh birokrat yang diterapkan di dunia kampus dengan dalih untuk mengajarkan ilmu displin agar tercipta sebuah keteraturan. Di ruang perkuliahan jadwal belajar diatur sedemikian rupa, mulai dari waktu belajar hingga istirahat untuk “bermain-main”, di dalam kampus harus menggunakan baju seperti ini , dilarang mengenakan yang seperti itu, dilarang bertingkah begini dan begitu. Bagi mereka yang mengindahkan peraturan diberi bintang-bintang emas sebagai mahasiswa terbaik, pun yang melanggar perintah-perintah didefinisikan tidak hanya buruk tapi abnormal. Kekuasaan displiner ini bertujuan untuk mengkonsolidasikan mereka yang “normal” terhadap yang lainnya.(baca : kekuasaaan) Mahasiswa hanya dapat bergerak atas dasar prilaku baik, pantas, normal seperti yang ditentukan oleh pemegang kekuasaan.

LEMBAGA KEMAHASISWAAN
Sungguh, kuasa ternyata tidak hanya ada di bagian birokrat kampus ,di kalangan mahasiswanya pun tak kalah eksistensinya. Kuasa antara ketua dan anggota lembaga, antara senior dan junior ,bahkan antara sesama teman-teman mahasiswanya. Sadar atau tidak semua berlomba menanamkan kekuasaannya pada orang lain. Pola kekuasaan itu sangat jelas terlihat saat proses-proses pengaderan mahasiswa baru , bagaimana setiap “senior” menanamkan kekuasaan pada “Maba” baik melalui diskusi-diskusi khusunya dalam menyebarkan isme-isme seperti kapital-isme ,sosial-isme, marx-isme, maupun isme-isme lainnya. Dampak dari pengaruh kekuasaan tersebut mahasiswa baru menerima segala pahaman-pahaman dari seniornya secara langsung tanpa ada upaya kritis. Sehingga proses transformasi pengetahuan yang diterima pun terkesan dogmatis. Karena sifatnya yang dogmatis sehingga sulit menjadi landasan dalam melakukan sebuah gerakan.
Pola pengaderan yang senantiasa mengkhutbahkan pendidikan kritis pun ternyata dalam pelaksanaanya justru jauh dari kata kritis. Menggring, membentak, bahkan menghardik pun kerap terjadi , dengan bangganya meneriakkan  bahwa pengaderan itu “memanusiakan manusia” namun pelaksanaan pengaderannya jauh dari kata memanusiakan ,kenapa seperti itu karena Paradigma yang tertanam di mahasiswa adalah bahwa senior lebih “banyak tahu” daripada junior. Senior memiliki kuasa atas junior. Keadaan-keadaan seperti ini yang kemudian membuat pengaderan hanya sebuah strktur formal yang harus dijalankan ketika ingin bergabung di sebuah lembaga kemahasiswaan. Pengaderan sebagai pendidikan alternatif tidak lagi berjalan efektif. Idealnya dalam pelaksanaan pengaderan nilai yang perlu tertanam adalah kesadaran, bagaimana kesadaran hadir dalam upaya menilai sebuah kekuasaan yang mampu memanusiakan manusia.

ALTERNATIF
Pengaderan di dalam sebuah lembaga kemahasiswaan hadir sebagai pendidikan alternatif yang menawarkan metode pendidikan yang memerdekakan dan me-manusiakan dengan konsep andragogi (model pendidikan bagi orang dewasa) yang dilaksanakan dengan prinsip dialektis, partisipatif, kontekstual dan praktis . (baca : pendidikan populer ).
Pendidikan alternatif hari ini hadir untuk menjawab keresahan “sebagian orang” yang tersadar akan dominasi kuasa sistem yang berhasil meng-alienasi-kan manusia dengan lingkungannya bahkan dengan  ke-diri-annya sendiri. Yah ketika manusia tidak lagi bergerak atas kehendak dirinya tapi berdasarkan doktrinitas yang dibuat sistem dalam melanggengkan kekuasaannya. Oleh karena itu pendidikan alternatif harus  menerapkan prinsip egaliter , artinya dalam proses pendidikan ada kesetaraan didalamnya, setiap orang menerima sesuai dengan porsinya masing-masing, tidak ada unsur pemaksaan murni atas kesadaran dan kehendak individu itu sendiri.
Karena katanya setengah dari hidup manusia adalah sebuah harapan, besar harapan saya pendidikan alternatif yang ditawarkan hari ini oleh lembaga kemahasiswaan adalah pendidikan yang mampu menyatukan kembali manusia dengan ke-manusiaan-nya, diri dengan ke-diri-annya, dan memiliki kesadaran yang sampai pada tahap kesadaran transformatif.
Desy Septiani (Akuntansi UNHAS 2016)

(Sumber tulisan: www.semafebuh.com)

Tuesday, 29 August 2017

Thailand Juara Sepakbola SEA Games 2017


(Sumber: instagram.com/totally.football)


Timnas sepakbola putra Thailand akhirnya mendapatkan medali emas setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 1-0 di Stadion Shah Alam, Selasa (29/8) malam. Di babak pertama, Malaysia sempat menekan pertahanan Thailand namun selalu berakhir gagal, sementara Thailand hanya memiliki beberapa peluang yang mengancam pertahanan Malaysia. Alih-alih bermain menyerang, Malaysia justru kebobolan di menit ke-39 lewat gol bunuh diri kiper mereka, Haziq Nadzli, yang mencoba menepis umpan dari tendangan penjuru Thailand yang berakibat masuk ke gawang sendiri, skor 1-0 untuk Thailand hingga peluit tanda babak pertama usai.

Di babak kedua, jual-beli serangan antarkedua tim berlangsung secara bergantian namun tidak satupun gol yang tercipta, skor 1-0 untuk Thailand hingga wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Dengan hasil ini, Thailand berhak mendapatkan medali emas sementara tuan rumah, Malaysia, harus puas mendapatkan medali perak.

Medali Perunggu dari Timnas Sepakbola Indonesia

(Sumber: goal.com)


Timnas sepak bola putra Indonesia berhasil mendapatkan medali perunggu setelah membantai Myanmar dengan skor 3-1 di stadion Selangor. Di babak pertama permainan Indonesia masih belum teratur dan peluang yang tercipta tidak terlalu mengancam gawang Myanmar yang dijaga oleh kipper Sann, petaka terjadi pada timnas Indonesia ketika Than Paing mencetak gol ke gawang Indonesia yang dikawal oleh Satria Tama, skor 1-0 untuk Myanmar. Beberapa kali Myanmar mengancam pertahanan Indonesia namun kesigapan sang kiper Satria Tama dapat mengatasi peluang yang diciptakan oleh para pemain Myanmar. Tidak ada lagi gol tercipta hingga wasit meniup peluit panjang tanda babak pertama usai.

Di babak kedua permainan Indonesia mulai membaik, berawal dari Marinus Wanewar digantikan oleh Ezra Walian. Awal babak kedua peluang Indonesia mulai mengancam pertahanan Myanmar, mulai dari peluang Septian David Maulana, Osvaldo Haay, dan Febri Haryadi. Titik terang Indonesia mulai muncul ketika di menit-57 Evan Dimas mencetak gol ke gawang Myanmar yang berawal dari umpan Febri Haryadi di sisi kiri, skor 1-1. Berselang dua menit, lebih tepatnya menit ke-59, Indonesia akhirnya melakukan comeback setelah Septian David Maulana mencetak gol dari jarak 15 meter yang berawal dari umpan silang Osvaldo Haay, skor 2-1 untuk Indonesia. Pertahanan Myanmar semakin memburuk dan Indonesia memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih banyak menciptakan peluang. Tepatnya pada menit ke-77, memanfaatkan bola muntah yang keluar dari kotak pinalti, Rezaldi Hehanusa menerima bola dan langsung melakukan tendangan dari jarak 25 meter dan mencetak gol yang indah. Skor 3-1 untuk Indonesia. DI akhir-akhir pertandingan, Myanmar sempat sesekali mengancam gawang Indonesia tapi Satria Tama dengan sigap mementahkan peluang dari para pemain Myanmar. Petaka bagi Myanmar, di waktu injury time, bek sayap Myanmar, Nan Wai, mentekel Ezra Walian yang berbuah kartu kuning kedua untuk pemain bernomor punggung 2 ini. Hingga wasit meniup peluit panjang skor 3-1 untuk Indonesia. Dengan hasil ini membawa Indonesia meraih peringkat ketiga dan mendapatkan medali perunggu untuk timnas Indonesia.